

Di balik ketulusan seorang guru Tahfidz yang setiap hari membimbing ayat-ayat suci, tersimpan sebuah duka yang mendalam saat mendapati putra tercintanya harus terbaring lemah melawan penyakit autoimun. Di tengah keterbatasan ekonomi, perjuangan sang guru kini tak lagi hanya tentang menjaga hafalan santri, melainkan juga berpacu dengan waktu dan biaya pengobatan di RS Sardjito demi melihat senyum sang buah hati kembali merekah.
Setiap helai napas ananda adalah perjuangan panjang yang membutuhkan uluran tangan kita, sebab beban ini terlalu berat jika dipikul sendiri oleh keluarga sang pejuang Al-Qur'an tersebut. Kepedulian kita bukan sekadar bantuan materi, melainkan wujud penghormatan bagi mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk jalan agama, sekaligus menjadi harapan baru bagi masa depan seorang anak yang sangat merindukan kesehatan.
Mari kita hadirkan keajaiban kecil melalui kedermawanan kita, menyisihkan sebagian rezeki untuk menjadi penyambung asa bagi kesembuhan putra guru kita. Sekecil apa pun donasi yang diberikan, itu adalah bukti nyata bahwa mereka tidak berjuang sendirian; mari salurkan bantuan terbaik Anda sebagai tabungan amal jariyah yang tak terputus.